Siap Memberikan Dukungan Fungsi Anggaran Secara Profesional

Analisis Ringkas Cepat

LOOKOUT PENDAPATAN NEGARA 2020 / April 2020

Sekilas:
Di awal 2020, dunia dikejutkan dengan ditemukannya virus baru yang disebut Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. Kasus pertama ditemukan di Provinsi Hubei, Tiongkok. Pada saat virus masih hanya terkonsentrasi di daratan Tiongkok, ekonomi dunia sudah dihadapkan pada meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mengingat kontribusi Tiongkok saat ini sebesar 12,81 persen pada rantai pasokan barang dunia. Saat ini, Covid-19 telah menyebar di lebih 200 negara. Penyebaran Covid-19 di luar daratan Tiongkok tersebut menciptakan ketidakpastian ekonomi global yang makin membuncah, akibatnya ekonomi global sudah di ambang resesi. Terganggunya rantai pasok global, permintaan dunia yang terkoreksi ke bawah, tertekannya nilai tukar di berbagai negara serta melemahnya keyakinan pelaku global merupakan dampak luar biasa yang disebabkan oleh penyebaran virus ini. Alhasil, beberapa lembaga megoreksi tajam pertumbuhan ekonomi dunia 2020. The Economist Intelligence Unit (EIU) memperoyeksi pertumbuhan dunia 2020 terkontraksi tajam sebesar minus 2,2 persen, dikoreksi sangat tajam dibandingkan proyeksi sebelum pandemi sebesar 2,3 persen2. Senada dengan EIU, International Monetary Fund (IMF) juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2020 akan terkontraksi tajam hingga minus 3 persen, jauh dari angka proyeksi sebelumnya yang mencapai 3 persen3 . Pertumbuhan ekonomi dunia yang terkontraksi tajam tersebut, juga akan memberikan tekanan yang luar biasa bagi perekonomian Indonesia. The Economist Intelligence Unit memprediksi ekonomi Indonesia 2020 hanya mampu bertumbuh 1 persen dan Asian Development Bank memprediksi sebesar 2,5 persen. Sedangkan Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia dapat mengalami kontraksi yang cukup dalam, yakni minus 3,5 persen hingga 2,1 persen. Relatif sama dengan Bank Dunia, pemerintah juga memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 dengan skenario terburuk dapat mencapai minus 0,4 persen dan skenario optimis mencapai 2,3 persen . Skenario optimis tersebut dapat terwujud dengan harapan titik puncak efek pandemi Covid-19 ini berakhir di kuartal kedua, dan ekonomi pada kuartal ketiga sudah mulai recovery hingga kuartal keempat. Artinya, proyeksi optimis tersebut sangat bergantung pada titik puncak pandemi Covid- 19. Kinerja perekonomian nasional yang diprediksi terkontraksi tajam di sepanjang 2020, akan berimbas pada turunnya penerimaan negara yang sangat signifikan juga.