Siap Memberikan Dukungan Fungsi Anggaran Secara Profesional

Buku

Dinamika Investasi, Tenaga Kerja, dan Industri / November 2019

Siklus:

Sekilas:
Berdasarkan perkembangan neraca perdagangan Indonesia, sejak tahun 2012 neraca perdagangan Indonesia kerap mengalami defisit dibandingkan surplus. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya: perlambatan perekonomian global dan kondisi geopolitik yang memengaruhi penurunan permintaan terhadap barang ekspor Indonesia; meningkatnya ketergantungan akan bahan baku impor pada industri manufaktur sehingga mengakibatkan harga barang ekspor menjadi kurang kompetitif karena terpengaruh oleh exchange rate exposure dimana nilai Rupiah lebih sering mengalami depresiasi dibandingkan apresiasi sehingga harga beli barang impor menjadi lebih mahal; belum fokusnya pemerintah dalam mengembangkan industri yang menjadi unggulan Indonesia sehingga kebijakan perdagangan, industri, maupun alokasi anggarannya masih belum optimal mendorong peningkatan produksi dan ekspor Indonesia; kebijakan pengenaan tarif dan nontarif oleh beberapa negara untuk melindungi industri dalam negerinya; defisit neraca migas yang disebabkan oleh belum meningkatnya kemampuan Indonesia dalam mencari sumber migas baru untuk dilakukan eksplorasi maupun ekspolitasi; serta perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Pada buku bunga rampai ini akan menyajikan artikel yang membahas variabel yang menjadi fokus perbaikan pemerintah dalam memperbaiki neraca perdagangan Indonesia, diantaranya mengenai investasi, tenaga kerja, dan industri. Investasi menjadi krusial karena merupakan salah satu faktor yang mampu menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi. Investasi di sektor industri menjadi penting karena dengan meningkatnya kemampuan sektor industri melakukan ekspansi maka akan memiliki multiplier effect yang lebih baik terhadap variabel makro yang lain seperti, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan negara melalui pajak, peningkatan konsumsi agregat karena peningkatan pendapatan perkapita, dan kesemuanya akan berujung pada perbaikan pertumbuhan ekonomi nasional. Berangkat dari ketiga variabel tersebut, buku ini akan menyajikan artikel yang membahas dari mulai kebijakan yang ada selama ini, perkembangan investasi, tenaga kerja, maupun industri, serta rekomendasi yang dapat menjadi pertimbangan pemangku kewenangan.




Kajian Kritis Terhada Isu-Isu Strategis Pendapatan dan Pembiayaan Negara / September 2019

Siklus:

Sekilas:
Pada buku ini akan membahas isu-isu strategis terkait penerimaan dan pembiayaan negara yang dapat dioptimalkan guna meningkatkan pendapatan negara serta menciptakan sumber pembiayaan yang kredibel. Adapun isu-isu yang dibahas dalam buku ini terbagi kedalam lima bagian yaitu: Pertama, Analisis Pelaksanaan Kebijakan Fasilitas Pajak Penghasilan Badan Di Indonesia Dalam Mendorong Investasi. Kedua, Tata Kelola dan Tantangan PNBP Sektor SDA. Ketiga, Kinerja Keuangan Dan Utang BUMN Karya Pasca Suntikan PMN. Keempat, Skema KPBU Dalam Mendukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur Bandar Udara. Kelima, Analisis Pelaksanaan Dana Bergulir FLPP Dalam Mengurangi Backlog Perumahan Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah.




Tinjauan Kritis atas Pengelolaan Anggaran Pendidikan melalui APBN / Juni 2019

Siklus:

Sekilas:
Dalam kurun waktu 2009-2019, nilai anggaran pendidikan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan secara kumulatif telah mencapai Rp3.920,45 triliun. Jika dikelola dengan tepat dan optimal, besarnya anggaran pendidikan dalam satu dekade terakhir ini seharusnya berimplikasi positif terhadap perbaikan capaian- capaian indikator pendidikan nasional. Artinya, dampak kenaikan anggaran pendidikan terhadap indikator-indikator pendidikan sangat dipengaruhi oleh kinerja pengelolaan setiap program bidang pendidikan yang dikerjakan oleh Pemerintah. Berangkat dari pemikiran tersebutlah, buku ini kami susun dan terbitkan. Buku ini akan mencoba menyajikan tinjauan kritis atas pengelolaan beberapa program bidang pendidikan yang pendanaannya bersumber dari anggaran pendidikan melalui APBN. Tinjauan kritis ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para perumus kebijakan dalam melakukan evaluasi dan perbaikan pengelolaan anggaran pendidikan, agar benar-benar efektif, efisien dan optimal mendorong perbaikan kualitas manusia Indonesia di masa mendatang.




Prediksi Asumsi Dasar Ekonomi Makro Dalam RAPBN TA 2020 / Mei 2019

Siklus:

Sekilas:
Paradigma penggunaan asumsi dasar ekonomi makro dalam penyusunan APBN dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa stabilitas ekonomi diperlukan dalam rangka mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Adapun asumsi dasar ekonomi makro dalam penyusunan APBN meliputi beberapa variabel yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, suku bunga SPN 3 bulan, harga minyak (ICP), serta lifting minyak dan lifting gas. Penetapan asumsi dasar ekonomi makro yang akurat memiliki dampak signifikan terhadap postur APBN, baik dari sisi penerimaan negara, belanja negara hingga defisit dan pembiayaan. Sehingga keakuratan asumsi dasar ekonomi makro juga diharapkan mampu menjadi dasar Pemerintah dalam mengambil kebijakan strategis maupun menjadi evaluasi kinerja ekonomi pemerintah. Yang kesemuanya itu bertujuan untuk dapat mencapai cita-cita nasional yaitu masyarakat adil, makmur, dan sejahtera. Mengingat pentingnya asumsi dasar ekonomi makro dalam penyusunan APBN, maka perkiraan proyeksi ketujuh asumsi ini harus dilakukan secara akurat dan realistis. Oleh sebab itu, dalam perhitungannya perlu mempertimbangkan perkembangan masing-masing variabel pada tahun-tahun sebelumnya, tahun berjalan dan perkiraan pada tahun yang akan datang. Hal ini dimaksudkan agar besaran-besaran asumsi dasar tersebut juga dapat mengakomodasi berbagai dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di dalam dan luar negeri.




Buku Bunga Rampai Isu Isu Strategis Pendapatan dan Pembiayaan / November 2018

Siklus:

Sekilas:
Pemerintah telah menyusun pembangunan strategis jangka menengah yang termuat dalam RPJMN 2015-2019. Adapun 3 (tiga) dimensi utama yang menjadi target pembangunan pada periode tersbeut yaitu (1) dimensi pembangunan manusia yang meliputi aspek pendidikan, kesehatan, perumahan dan karakter; (2) dimensi sektor unggulan yang meliputi kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kemaritiman, dan pariwisata; serta (3) dimensi pemerataan dan kewilayahan. Dalam mengejar pembangunan strategis yang terangkum dalam 3 (dimensi) tersebut tentunya memerlukan pendanaan yang cukup tinggi ditiap tahunnya. Hal ini terlihat dari anggaran belanja negara yang terus mengalami kenaikan, yaitu realisasi belanja pada tahun 2015 sebesar Rp1.806,5 triliun dan meningkat tajam pada outlook 2018 sebesar Rp2.217,2 triliun. Sementara itu realisasi pendapatan negara pada tahun 2015 sebesar Rp1.508 triliun dan pada outlook 2018 mencapai Rp1.903 triliun. Tentunya kenaikan anggaran belanja tersebut perlu diiringi dengan kenaikan penerimaan negara serta sumber-sumber pembiayaan kreatif guna menopang defisit anggaran yang ada. Pada buku ini akan membahas isu-isu strategis terkait penerimaan dan pembiayaan negara yang dapat dioptimalkan guna meningkatkan pendapatan negara serta menciptakan sumber pembiayaan yang kredibel.




← Sebelumnya 1 2 3 4 Selanjutnya →